OPINI  

Siapa Peminat Arah Politik Jalan Tengah (PSI) ?

PSI memposisikan diri sebagai pragmatis radikal untuk kesejahteraan sosial

Aljon Ali Sagara, S.Sos., C.IPL., C.PSH

OPINI, StraightNews.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah memilih jalan sebagai antitesis politik polarisasi, menolak dominasi dan menjadi sebuah entitas politik jalan tengah. Partai PSI diramalkan siap menangguk suara massa silent majority yang saat ini menduduki sebagai native yang sejak lama merupakan sebuah entitas kurva terbesar politik nasional.

Seperti dikatakan Ketua Harian PSI Ahmad Ali, PSI memposisikan diri menjadi pilihan politik jalan tengah, massa terbesar politik ini diramalan banyak pengamat politik, merupakan pemilih ajeg namun pemilih native yang kerap diberi label sebagai kelompok ‘massa tidak berpolitik (MTB) yang tidak mono pilihan ini, faktanya juga adalah kelompok MTB tidak pernah menyatakan ingin memilih menjadi ekstrim ideologis kiri atau kanan, inilah artikulasi dari massa tidak berpolitik. PSI menyatakan dirinya politik tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri.

Entitas ‘massa tak berpolitk’ inilah yang di era informasi digital yang terbuka massif dikatakan sebagai pemilih terbesar yang kuat, berada di kurva tengah (bellcurve) yang berrpaham keterbukaan, anti terhadap gerakan polarisasi, dan melihat bahwa partai yang berani menjadi antitesis politik biasa menjadi politik super massif terbuka sebagai alternatif politik baru.

Harian Kompas menyebutnya, ini cukup identik seperti yang disebutkan Presiden AS Bill Clinton ataupun dalam perjuangan reformasi UU perburuhan Tony Blair ketika itu, yakni menawarkan ideologi yang tidak menolak kapitalisme, namun kapitalisme yang disesuaikan, arah negara dihadirkan untuk berkeadilan sosial dengan memfungsikan kembali negara pada orisinalitasnya sebagai lumbung kekayaan rakyatnya.

Kiranya ramalan Bill dan Tony mengenai demokrasi dan ekonomi jalan tengah mulai terlihat semakin tegas, politik jalan tengah dirasakan rakyat menjadi penawar dominasi ekstrimis politik dogma dan memposisikan diri sebagai pragmatis radikal untuk kesejahteraan sosial.(PSI/KOM/BBC/WSJ/NAS)

Aljon Ali Sagara, S.Sos., C.IPL, C.PSH.
Pemerhati Sosiopolitik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *